Pilkada DKI ; Agama Banyak Peran

2017-04-03 23:43

Sifat baik atau buruk dari seseorang dampak sosialnya akan sangat besar, ketika yang bersangkutan memiliki kekuasaan besar dalam sebuah institusi atau terlebih menjadi pemimpin pemerintahan.  Manusia adalah makhluk yang dinamis, sifat baik dan buruk selalu muncul bergantian dalam perjalanan hidupnya.  Respon terhadap lingkungan berupa rasa takut, ancaman, atau keinginan adalah diantara faktor yang mempengaruhi irama-irama kehidupannya yang pada akhirnya terproyeksi dalam bentuk sikap yang terpublikasi dalam kehidupan sosial dan ternilai oleh masyarakat.  Tak ada satupun indikator yang tepat untuk menilai seseorang itu baik atau buruk.  Dimensi kehidupan manusia didunia mungkin sudah demikian desain-nya.  Hanya Nabi atau Rasul saja yang memiliki ke-istiqamahan dalam sifat, sikap dan akhlak yang mulia.  Jadi, untuk manusia biasa mungkin nilai modus yang agak tepat menggambarkan sifat baik atau buruk seseorang.  Seseorang dikatakan baik, jika dalam kehidupannya lebih banyak baiknya daripada buruknya, sebaliknya orang dikatakan jelek atau buruk jika dalam hidupnya lebih banyak jeleknya daripada baiknya.

Sifat baik dan buruk yang terkadang muncul sebagai respon terhadap lingkungan, juga karena habit – kebiasaan yang sudah lama terbangun dan muncul dalam bentuk ekspresi diri seseorang.  Self-love, egoisme dan arogan adalah bentuk ekspresi diri, yang ketiganya hampir serupa. Tetapi,  self-love adalah berbasis tanggungjawab dan mensyukuri terhadap anugerah hidup, bukan "ke-aku-aku-an" yang menonjol pada sikap egois.  Baik dan buruk menjadi penentu keterpilihan seseorang menjadi pelayan masyarakat (pemimpin).  Baik dalam hal program-program yang ditawarkan dan potensi diri untuk mengejawantahkan, baik perilakunya (humanis), atau buruk dari kerjanya dan buruk personality-nya.  Meskipun pada kenyataannya tidak selalu demikian ketika calon pemimipin akhirnya dipilih oleh rakyat.

Pada era sekarang ini dimana kemajuan teknologi informasi melaju dengan kecepatan tinggi,  terlalu mudah bagi kita untuk sekedar menengok kebelakang untuk sekedar mendapatkan informasi calon pemimpin, apakah sejarah telah mencatat tentang jejak-jejak bermakna dari seorang calon pemimpin untuk kemaslahatan masyarakat?.  Google adalah piranti lunak yang sudah mirip CCTV Illahi,  merekam banyak peristiwa, kejadian, kasus atau personality seseorang.  Baik dan buruk sebenarnya dapat dinilai melalui piranti lunak ini, men-browsing dari banyak sumber dan menyimpulkannya, meskipun terkadang subjektifitas juga bermain dalam hal ini.

Bulan februari 2017 yang selalu mendung dan dingin, namun rongga-rongga pikiran terasa hangat atau lebih-lebih hot karena efek berita di media massa seputar sosial politik di Jakarta yang menjadi topik nasional.  Terkadang membosankan bagi sebagian orang yang netral - manzila baina manzilatain (posisi diantara dua posisi), atau sebagian lagi sangat menarik, karena masalah yang sebenarnya adalah posisi ke-duniawi-an (kekuasaan) akhirnya melahirkan dampak pengiring (nurturant effect) berupa permasalahan keyakinan – agama, atau lebih tepatnya masalah ghirah dinniyah.

Secuil euforia pilkada DKI Jakarta telah bergeser menjadi segudang masalah nasional. Masalah ini jika di telisik adalah prestasi politikus, kelompok, dan media massa yang secara kolektif namun berbeda tujuan berhasil menggiring opini publik.  Sebagai contoh kasus, jika yang di maksud “penista agama” bukanlah seorang calon gubernur, tentunya tidak sepanas ini temperatur politik di DKI Jakarta dan nasional.  Kasus penistaan agama yang berlanjut pada proses persidangan, akhirnya menimbulkan deviasi ke masalah-masalah yang lain.  Hemat penulis, jika keadaan sedang emosi sungguh bijaksana untuk lebih hemat bicara, berpikir tenang agar kalimat tidak menyambar kemana-mana dan menimbulkan masalah baru.

Cara pandang orang adalah beragam bahkan ketika harus berhadapan dengan ayat-ayat Tuhan (al-Qur’an), masing-masing memiliki prosedur dan produk yang berbeda dalam menafsirkannya.  Tak ada kebenaran mutlak untuk produk-produk manusia, “Kebenaran ibarat cermin Tuhan yang jatuh berkeping-keping kepermukaan bumi, setiap orang memungut kepingannya,  tetapi meyakininya sebagai cermin yang utuh” (Jalaluddin Rumi).  Bukankah keragaman ini adalah desain dari Tuhan?,  ke-anekaragaman hayati, sosio-kultural, anatomi, dan termasuk juga keyakinan ; “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Yunus ; 99).  Sudah semestinya kita merenungkan kembali permasalahan duniawi ini secara mendalam.  Ketika pikiran istirahat dalam keheningan, maka hati yang akan bangun untuk menasehati dirimu tentang kebenaran, kebaikan, kedamaian dan keindahan Illahi.

Arena politik sungguh mirip medan offroad,  mobil seindah apapun akan terlihat kotor dan berdebu.  Kalimat ini menggambarkan ketiga calon gubernur DKI Jakarta, atau calon-calon gubernur daerah lain yang siap berkompetisi tanggal 15 Februari 2017.   Media massa televisi dan koran dituntut untuk menjaga netralitas, jujur, independen, memberitakan yang sebenarnya, namun terkadang berat sebelah dalam pemberitaannya. Calon-calon gubernur khususnya di DKI Jakarta  akhirnya harus menerima semburan tinta beraneka warna dari media massa tertentu dengan keyword “diduga”, “didakwa” dan lain sebagainya.    Seperti orang buta yang berusaha menggambarkan bentuk gajah dengan benar, semua bagian harus diraba.  Demikian juga sumber informasi dari media massa televisi dan koran,  semua harus dibaca demi secuil kebenaran, agar lebih bijaksana dalam menimbang sumber pemberitaan.  Hiruk pikuk informasi di media sosial seyogianya disikapi dengan hati-hati dan selektif.  Deretan huruf memanglah powerful, rangkaian huruf dalam bentuk kalimat atau tulisan dapat menyejukkan, sekaligus menyulut kemarahan.

Pasca 15 Februari 2017, kita berharap agar suasana menjadi tenang kembali, dibutuhkan kesadaran kolektif agar kebersamaan, kerukunan dalam bingkai keberagaman berbangsa dan bernegara terjalin, semua elemen dapat menerima hasil pemilihan kepala daerah masing-masing dengan pikiran dingin.   Kekuasaan adalah panggung politik yang atraktif dan dinamis, tidak perlu ditakuti atau dicemaskan jika seseorang akhirnya mendapatkan kursi kekuasaan selama masih ada kontrol kekuasaan yang masih bekerja.  Kaum intelektual dan negarawan sebagai bentuk tanggungjawab keilmuan, moral dan rasa nasionalismenya dituntut untuk menyejukkan suasana dan meredakan konflik. Bukankah semakin banyak agamawan, sarjana, ilmuwan dan intelektual, kehidupan bernegara dan berbangsa harusnya semakin baik?.